Tampilkan postingan dengan label kurs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kurs. Tampilkan semua postingan

Rabu, 18 Februari 2009

Mengapa rupiah tak kunjung menguat ?

ANALISIS EKONOMI
Mengapa Rupiah Tak Kunjung Menguat?
MYE
Senin, 16 Februari 2009 | 00:13 WIB

A TONY PRASETIANTONO

Kurs rupiah, pekan lalu, terus melemah ke level Rp 12.000 per dollar AS. Meski fenomena pelemahan kurs ini juga praktis terjadi pada hampir semua mata uang dunia terhadap dollar AS, tetap saja ini menimbulkan kekhawatiran. Kita masih dihinggapi trauma pelemahan rupiah sebagaimana terjadi pada krisis 1998.

Setidaknya bisa dipetakan adanya lima faktor penyebabnya. Pertama, dalam setahun terakhir terjadi penurunan hebat arus modal masuk (capital inflow) dari negara-negara maju ke negara-negara emerging markets di Asia. Pada Januari-Agustus 2008, modal masuk terpangkas 40 persen, dari 100 miliar dollar AS menjadi 60 miliar dollar AS (World Bank, Global Economic Prospects 2009: Commodities at the Crossroads).

Modal asing yang masuk dapat dikategorikan menjadi tiga jenis, yakni penerbitan obligasi, penjualan saham (equity issuance), dan pinjaman perbankan. Ini belum termasuk penurunan modal asing langsung.

Situasi kian memburuk sejak 15 September 2008 ketika Lehman Brothers bangkrut. Investor di New York, Amerika Serikat, pun kemudian melakukan konsolidasi. Mereka menarik dananya dari seluruh dunia untuk menata ulang portofolionya.

Kini emerging markets bahkan diperkirakan mengalami defisit aliran modal, berarti lebih banyak modal keluar daripada modal masuk. Dalam kasus Indonesia, hal itu dapat dideteksi dari merosotnya cadangan devisa dari level tertinggi 57 miliar (Juli 2008) menjadi 51 miliar dollar AS. Repatriasi modal menyebabkan naiknya permintaan terhadap dollar AS sehingga kurs dollar AS menguat. Inilah penjelasan, mengapa dollar AS justru menguat ketika perekonomian AS memburuk?

Kedua, surplus perdagangan Indonesia menurun tajam, dari 40 miliar dollar AS (2007 dan 2006) menjadi hanya 11 miliar dollar AS (2008). Surplus 2008 berasal dari ekspor 136 miliar dollar AS dikurangi impor 125 miliar dollar AS. Ekspor mulai melemah sejak Oktober 2008 ketika AS dan seluruh dunia sudah memasuki periode krisis. Hal ini juga diikuti oleh menurunnya impor, seiring dengan kian mahalnya dollar AS. Menipisnya surplus perdagangan menghilangkan peluang untuk menambah cadangan devisa.

Ketiga, euforia Barack Obama dan stimulus fiskal AS. Keputusan untuk menginjeksi stimulus fiskal 787 miliar dollar AS juga berkorelasi dengan kenaikan kurs dollar AS.

Keempat, sebelum 15 September 2008, banyak mata uang dunia cenderung terlalu mahal (overvalued) terhadap dollar AS. Akibatnya, neraca perdagangan tertekan hebat (defisit).

Indonesia kurang lebih punya masalah mirip. Karena kurs dollar AS terlalu murah (undervalued), impor melonjak sangat besar. Pada Juli 2008, impor kita mencapai rekor tertinggi 12,82 miliar dollar AS, padahal ekspor cuma 12,55 miliar dollar AS. Akibatnya, terjadi defisit perdagangan hampir 300 juta dollar AS. Saya menduga hal ini terjadi karena dollar AS undervalued, atau sebaliknya rupiah overvalued. Koreksi yang diperlukan adalah kombinasi antara dollar AS menguat dan rupiah melemah.

Kelima, Bank Indonesia menurunkan suku bunganya terlalu cepat. Kebijakan ini memang sangat diperlukan untuk memacu sektor riil. Namun, penurunan BI Rate yang terakhir dari 8,75 persen ke 8,25 persen justru dilakukan pada saat rupiah lemah, yakni Rp 11.700 per dollar AS. Saya rasa waktunya salah.

Masih bisa menguat

Rupiah saya yakini masih bisa menguat. Syarat utamanya, modal global yang kini sedang mudik ke New York harus kembali lagi ke sini. Pemilik dana sedang menimbang-nimbang, mau dikemanakan uangnya? Mereka pasti cenderung menghindari derivatif, dan mencari portofolio aman, misalnya obligasi pemerintah dan korporasi kredibel. Cepat atau lambat, dana-dana itu akan mengalir lagi ke emerging markets karena tetap paling prospektif.

Dalam berbagai versi proyeksi pertumbuhan ekonomi, Indonesia menempati urutan ketiga sesudah China dan India. Dalam versi Bank Dunia (2009), misalnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan 4,4 persen, atau di bawah China (7,5 persen) dan India (5,8 persen). Level ini masih di atas kompetitor terdekat kita dalam menarik modal global, yaitu Thailand (3,6 persen), Malaysia (3,7 persen), dan Filipina (3,0 persen).

Negara-negara emerging markets masih bisa tumbuh, meski melambat, karena kecilnya exposure pada produk surat berharga yang berbasis subprime mortgage. Sedangkan negara Asia yang banyak bermain derivatif semuanya terpukul dan mengalami kontraksi: Singapura dengan pertumbuhan ekonomi minus 2,2 persen, Hongkong (minus 1 persen), dan Korea Selatan (minus 1,7 persen).

Berdasarkan peta ini, Indonesia masih cukup prospektif menerima lagi aliran modal. Indonesia dapat meminimalkan krisis karena dua hal. Pertama, tidak terlibat derivatif terlalu dalam. Kedua, punya andalan komoditas primer. Meski harganya sempat terpukul, diyakini pada 2009 akan membaik, meski tidak setinggi 2008.

Ketika sebagian modal global kelak kembali mengalir ke sini, rupiah pun akan menguat. Setidaknya rupiah menjadi Rp 11.000 per dollar AS, atau bahkan lebih kuat lagi. Itu saya perkirakan bakal terjadi pada semester II nanti. A Tony Prasetiantono Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM; Chief Economist BNI

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/02/16/00135546/mengapa.rupiah.tak.kunjung.menguat

Selasa, 03 Februari 2009

Rupiah dekati 12.000

Ekonomi
02/02/2009 - 16:14
Rupiah Hancur Dekati 12.000

(inilah.com/ Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Senin sore masih bergerak turun, namun tekanan pasar agak berkurang sehingga terkoreksi 274 poin atau sedikit membaik dibanding pagi hari yang turun 414 poin.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun menjadi Rp 11.650/11.750 per dolar dibanding penutupan akhir pekan lalu yang mencapai Rp 11.376/11.400 per dolar atau turun 274 poin.

Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk, Kostaman Thayib di Jakarta, mengatakan, Bank Indonesia (BI) mulai masuk pasar, namun hanya mengamati kegiatan perdagangan antar bank terutama bank-bank asing yang bermain valas.

"Akibatnya tekanan pasar berkurang, sehingga rupiah masih dapat bernafas dan hanya mengalami koreksi sekitar dua ratus poin lebih," ucapnya.

BI, menurutnya, masih belum mau melakukan intervensi pasar apabila kondisi seperti masih dapat diatasi dengan baik seperti melakukan pengontrolan secara ketat kegiatan perdagangan valas antar bank.

"Pengawasan BI di pasar terhadap bank-bank asing cukup efektif, meski rupiah masih cenderung turun terhadap dolar," katanya.

Ia mengatakan, penurunan rupiah itu terjadi hanya sementara saja, namun peluang rupiah untuk menguat masih bisa terjadi.

Hal ini disebabkan paket stimulus yang direncanakan pemerintah saat ini sedang dibahas di DPR yang diperkirakan akan mendapat persetujuan.

Paket stimulus pemerintah sebesar Rp 71,3 triliun diharapkan dapat menggerakkan sektor riil yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi nasional tumbuh lebih baik, ucapnya.

Apalagi, lanjutnya, BI akan tetap menjaga rupiah agar tetap berkisar antara Rp 11.300 sampai Rp 11.500 per dolar AS yang memungkinkan rupiah kesulitan untuk mendekati angka Rp 12.000 per dolar AS.

"Karena itu BI akan berusaha menjaganya dengan ketat pergerakan kedua mata uang itu agar tetap berada dalam kisaran tersebut di atas," ucapnya. [*/cms]

http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2009/02/02/80618/rupiah-hancur-dekati-12000/

Rabu, 28 Januari 2009

Rupiah Rp. 11.300 per dolar

Ekonomi
28/01/2009 - 15:14
Oow! Rupiah Lunglai tak Berdaya

(inilah.com/Bayu Suta)

INILAH.COM, Jakarta - Kurs rupiah terhadap dolar AS di pasar spot antarbank Jakarta, Rabu sore, merosot tajam menjauhi angka Rp 11.300 menjadi Rp 11.350/11.365 per dolar AS, di banding penutupan hari sebelumnya Rp 11.290/11.300 atau turun 60 poin.

"Turunnya rupiah terhadap dolar menyusul laporan Departemen Keuangan yang menyebutkan bahwa kinerja ekspor Indonesia Januari 2009 merosot hampir 50% dibanding periode sama tahun lalu," kata Direktur Retail Banking PT Bank Mega Tbk Kostaman Thayib di Jakarta, Rabu (28/1).

Kostaman Thayib mengatakan, laporan tersebut memicu pelaku pasar melepas rupiah dan memburu dolar, sehingga mengalami kenaikan yang cukup berarti. "Kami khawatir rupiah akan kembali terpuruk, apabila aksi beli dolar berlanjut, " ujarnya.

Menurutnya, rupiah pada perdagangan siang tadi terlihat makin tertekan akibat pembelian dolar yang berlanjut. "Namun posisi rupiah pada angka tersebut kemungkinan akan ditahan Bank Indonesia (BI) dengan masuk pasar dan melepas cadangan dolarnya," katanya.

BI berusaha menjaga rupiah agar tetap pada level Rp 11.000 per dolar karena pada posisi tersebut rupiah dinilai tetap aman.

Apabila rupiah melewati angka Rp 11.300 per dolar, maka dikhawatirkan posisinya akan terus terpuruk hingga mendekati level Rp 12.000 per dolar.

Ia mengatakan, rupiah harus kembali menguat hingga di posisi Rp 11.000 per dolar untuk mengantisipasi melesetnya perkiraan bahwa pemilihan umum (Pemilu) yang berjalan lancar.

"Karenanya, BI diperkirakan akan masuk pasar dan segera mengamati pergerakan bank-bank asing yang bermain valuta asing," tegasnya.

Krisis keuangan global yang terjadi memang sangat berat. Koreksi harga ini terjadi hampir di semua mata uang utama Asia.

Namun keterpurukan rupiah yang lebih besar di banding mata uang utama Asia lainnya mengakibatkan rupiah terpuruk lebih tajam sehingga menimbulkan kekhawatiran. [*/cms]