Tampilkan postingan dengan label hutang negara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label hutang negara. Tampilkan semua postingan

Jumat, 17 April 2009

Ngutang lagi Sukuk 600 juta dolar !

Kamis, 16/04/2009 19:27 WIB
Hasil Penawaran Sukuk Global Diumumkan Jumat Pagi
Suhendra - detikFinance


Foto: Angga/detikFinance
Jakarta - Departemen Keuangan (Depkeu) akan mengumumkan hasil penawaran sukuk global pada besok, Jumat (17/4/2009) pagi. Pemerintah juga tidak akan menambah nilai penerbitan yang kini ditetapkan maksimum sebesar US$ 600 juta atau sesuai underlying asset yang ada.

"Besok pagi begitu transaksi selesai semua aktvitas ditutup, besok pagi diumumkan," kata Menkeu Sri Mulyani dalam acara konferensi pers di kantornya, Kamis (16/4/2009).

Dikatakannya saat ini transaksi sedang dalam proses yang terus berjalan. Mengenai kemungkinan tambahan karena jumlah peminat, menurutnya penerbitan sukuk selalu didukung dari underlying asset yang sebelumnya ditetapkan maksimum US$ 600 juta.

"Tentu kita tidak bisa naikan meski apptite tinggi," jelasnya.

Sri Mulyani menegaskan penerbitan sukuk global saat ini merupakan untuk pertama kalinya Indonesia meluncurkan sukuk global dalam dominasi dolar.

"Sejak 2007 nyaris tidak ada penerbitan sukuk internasional, ini masuk pertama kali di sukuk pasca krisis dan merosotnya harga minyak," jelasnya.
http://www.detikfinance.com/read/2009/04/16/192717/1116738/5/hasil-penawaran-sukuk-global-diumumkan-jumat-pagi

Rabu, 15 April 2009

Ngutang lagi 7,4 T !

14/04/2009 - 17:15
Pemerintah Lelang SUN Rp 7,4 T
Wahid Ma'ruf

INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah melakukan lelang Surat Utang Negara (SUN) sebesar Rp 7,450 triliun untuk 3 seri.

Dari keterangan tertulisnya, Ditjen Pengelolaan Utang Depkeu melelang SUN seri SPN20100415, seri FR0030 yang bersifat reopening dan FR0044 dengan status reopening melalui sistem BI. Total menawaran yang masuk sebesar Rp 14,57 triliun. "Total nominal yang dimenangkan dari ketiga seri tersebut sebesar Rp 7,45 triliun," tulis rilis tersebut, Selasa (14/4).

Untuk penawaran seri SPN20100415 yang masuk mencapai Rp 7,717 triliun dengan harga terendah 8,87% dan penawaran harga tertinggi 9,62%. Untuk seri FR0030 penawaran yang masuk sebesar Rp 3,98 triliun dengan harga terendah 11,4% dan harga tertinggi yang masuk 11,9%.

Sedangkan seri FR0044 penawaran yang masuk mencapai Rp 2,87 triliun dengan harga penawaran terendah 12,31% dan harga tertinggi 13%. [cms]


http://inilah.com/berita/ekonomi/2009/04/14/98831/pemerintah-lelang-sun-rp-74-t/

Kamis, 05 Maret 2009

Ngutang dari Bank Dunia, saldo nya 1.667 T

Utang dari Bank Dunia
Posisi Utang Mencapai Rp 1.667 Triliun
Kamis, 5 Maret 2009 | 05:31 WIB

Jakarta, Kompas - Pemerintah Indonesia mendapat pinjaman siaga senilai 2 miliar dollar AS dari Bank Dunia. Tambahan komitmen itu menjadikan total pinjaman siaga yang dapat dihimpun untuk mengatasi dampak krisis ekonomi global mencapai 5,5 miliar dollar AS.

Dana itu efektif dipakai apabila mobilisasi dana dari penerbitan surat utang negara di pasar domestik maupun internasional mengalami kondisi harga yang sangat mahal atau tidak rasional, atau kesulitan mengakses pasar karena likuiditasnya tidak ada.

”Sebenarnya situasi hari-hari ini sudah kategori bisa mencairkan pinjaman itu,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Rabu (4/3) di Jakarta.

Per 31 Januari 2009, total utang Indonesia mencapai Rp 1.667 triliun atau 30 persen lebih dari produk domestik bruto. Utang tersebut berupa pinjaman Rp 740 triliun dan surat berharga Rp 920 triliun.

Dalam dua tahun terakhir, pemerintah lebih berorientasi pada penerbitan surat berharga untuk menutup defisit anggaran dan menurunkan pinjaman luar dari lembaga keuangan atau negara dalam kerangka multilateral atau bilateral. Namun, karena meledaknya krisis keuangan global, pinjaman surat berharga menjadi lebih mahal sehingga ada kecenderungan pemerintah kembali pada pinjaman langsung. Pemerintah memperkirakan target defisit anggaran tidak lebih dari 2,6 persen tetap bisa dipenuhi.

Pejabat Direktur Bank Dunia untuk Indonesia Chris Hoban mengatakan, fasilitas pinjaman siaga ini baru pertama kali dilakukan Bank Dunia. ”Indonesia jadi model percontohan fasilitas pinjaman siaga semacam ini. Bank Dunia sangat optimistis dengan perencanaan Indonesia mengatasi krisis,” ujarnya.

Mendukung stimulus

Pinjaman dari Bank Dunia itu akan digunakan untuk mendukung paket stimulus fiskal Rp 73,3 triliun. Indonesia mendapatkan komitmen serupa dari Pemerintah Australia 1 miliar dollar AS, Jepang 1,5 miliar dollar AS, dan Bank Pembangunan Asia 1 miliar dollar AS. Semuanya untuk tahun 2009-2010.

Sri Mulyani menilai jumlah pinjaman siaga yang sudah didapat Indonesia cukup memadai untuk memenuhi program stimulus fiskal tahun ini. ”Pemberi pinjaman mengharapkan tidak dihabiskan tahun ini,” ujarnya.

Namun, Indonesia akan tetap menjaga akses terhadap pasar keuangan internasional. Indonesia telah menerbitkan obligasi global sejumlah 3 miliar dollar AS.

Menteri Keuangan menegaskan, apabila dinilai masih mungkin, pemerintah bersama Dewan Perwakilan Rakyat bisa membahas stimulus lanjutan. ”Saat ini posisinya pemerintah akan menjalankan yang sudah disepakati dan melihat realisasi sepanjang semester pertama,” ujar Sri Mulyani menjelaskan.

Stimulus Rp 73,3 triliun baru akan berjalan pekan-pekan ini. Efek stimulus akan terlihat pada kuartal II tahun 2009. (DOT)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2009/03/05/05311089/utang.dari..bank.dunia

Rabu, 18 Februari 2009

Defisit naik, hutang naik

Selasa, 17/02/2009 11:34 WIB
Defisit APBN 2009 Naik Jadi 2,6%
Wahyu Daniel - detikFinance


Foto: Wahu/detikFinance
Jakarta - Defisit APBN 2009 bisa kembali naik dari 2,5% (Rp 132 triliun) menjadi 2,6% (Rp 137 triliun) seiring menurunnya pendapatan negara di 2009 akibat imbas krisis ekonomi global akan tetapi belanja tetap.

Hal ini dikatakan oleh Dirjen Anggaran Anny Ratnawati dalam acara seminar yang diadakan PT PNM di Gedung Arthaloka, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (17/2/2009).

"Penerimaan negara turun sekitar Rp 130 triliun. Kalau belanja tidak berubah, pembiayaan akan besar. Tidak mudah mencari dana, di tengah keketatan likuiditas. Kalaupun ada, biayanya tinggi. Belanja diturunkan, karena subsidi turun akibat harga minyak turun. Belanja Kementerian/Lembaga tidak dipotong," tuturnya.

Dengan naiknya defisit ini, Anny mengatakan pembiayaan tambahan akan berasal dari SILPA atau surplus APBN 2008 sebesar Rp 51 triliun dan tambahan utang dari pinjaman luar negeri atau standby loan sebanyak Rp 37 triliun.

"Defisit anggaran naik, Rp 136,9 triliun (2,6% dari PDB). Kita dapat standby hampir US$ 5 miliar, US$ 3,5 miliar akan ditarik untuk pembiayaan, pokoknya aman lah," jelasnya.

Dikatakan Anny kebijakan fiskal bertujuan mendorong pertumbuhan ekonomi di tengah kondisi ekonomi global, dimana investasi turun.

"Ekspor dan impor juga turun, dikhawatirkan minus. Kalau terjadi, penerimaan ekspor turun, tapi penerimaan impor turun, jadi balance," imbuhnya.
(dnl/lih)
http://www.detikfinance.com/read/2009/02/17/113444/1086002/4/defisit-apbn-2009-naik-jadi-26

Kamis, 04 Desember 2008

Karena perubahan nilai tukar, utang RI naik 2,335 milyar dolar

Utang Naik 2,335 Miliar Dollar AS
Paling Besar Berdenominasi Yen
Senin, 24 November 2008 | 01:34 WIB

Jakarta, Kompas - Beban pembayaran utang luar negeri Pemerintah Indonesia periode Januari-Oktober 2008 dilaporkan meningkat 2,335 miliar dollar AS akibat fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap tiga valuta asing utama, yakni yen Jepang, dollar AS, dan euro.

Tingginya peningkatan beban pembayaran utang itu disebabkan pada saat yang sama terjadi penguatan nilai tukar yen terhadap dollar AS dan pelemahan rupiah terhadap dollar AS.

”Perubahan outstanding (nilai total utang) yang ekuivalen dalam dollar AS dan juga rupiah sangat dipengaruhi oleh jumlah utang yang dicairkan (net disbursement) dan fluktuasi nilai tukarnya,” ujar Direktur Jenderal Pengelolaan Utang Departemen Keuangan (Depkeu) Rahmat Waluyanto, Minggu (23/11) di Jakarta.

Menurut Rahmat, dalam struktur portofolio pinjaman luar negeri, ada tiga valuta asing (valas) utama yang berpengaruh pada outstanding pinjaman luar negeri pemerintah, yakni dollar AS, yen, dan euro. Berdasarkan data September 2008, komposisi utang dalam dollar AS mencapai 29 persen dari total pinjaman luar negeri. Adapun utang dalam yen sebesar 44 persen dan euro sebanyak 16 persen terhadap total pinjaman luar negeri.

Berdasarkan data Depkeu per 31 Oktober 2008, nilai outstanding pinjaman luar negeri mencapai 62,103 miliar dollar AS. Maka, utang dalam yen menduduki komposisi terbesar, yakni sekitar 27,325 miliar dollar AS.

Besarnya pembayaran utang dalam yen membuat pembayaran pinjaman pemerintah melonjak akibat penguatan mata uang Jepang ini terhadap dollar AS. Setiap penguatan yen terhadap dollar AS sebesar 1 persen akan memengaruhi peningkatan pinjaman senilai 0,4 persen ekuivalen dollar AS. Outstanding pinjaman membengkak karena setiap utang yen, dibayar dengan dollar AS.

”Kecenderungan penguatan yen terhadap dollar AS saat ini akan mendorong peningkatan outstanding utang dalam ekuivalen dollar AS. Saat yang sama, penguatan dollar AS terhadap rupiah akan berpengaruh lebih besar terhadap outstanding utang dalam rupiah,” ujar Rahmat.

DIPA baru

Sebelumnya, Dirjen Perbendaharaan Negara Depkeu Herry Purnomo menyebutkan, jika pada akhir tahun anggaran 2008 terjadi peningkatan beban pembayaran utang, pihaknya akan menerbitkan Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA) baru untuk pelunasan utang.>w 9636m<>w 9536mw 9636mw 9736m<

”Saya masih menunggu perhitungan yang dilakukan oleh Pak Rahmat (Rahmat Waluyanto, Dirjen Pengelolaan Utang Depkeu) atas perubahan pembayaran utang itu,” ujarnya.

Hingga tanggal 14 November 2008, Depkeu mencatat pembayaran utang luar negeri telah mencapai Rp 22,6 triliun atau 78 persen dari pagu di APBN Perubahan (APBN-P) 2008, yang ditetapkan sekitar Rp 28,97 triliun. Adapun pembayaran utang dalam negeri, yang sebagian besar merupakan utang pokok dan bunga atas obligasi negara telah mencapai Rp 51,4 triliun atau 78 persen terhadap pagu pada APBN-P 2008, yakni sekitar Rp 65,897 triliun.

Meskipun sebagian besar pinjaman berdenominasi yen, pemerintah tidak memiliki stok yen dalam jumlah besar. Adapun dana dalam bentuk valas terbesar yang dimiliki pemerintah ada dalam denominasi dollar AS. (OIN)

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/11/24/0134166/utang.naik.2335.miliar.dollar.as

Indonesia ajukan pinjaman ke IMF

17/11/2008 18:16
Indonesia Ajukan Pinjaman ke IMF
Wahid Ma'ruf




INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah Indonesia berhasil mengusulkan pinjaman IMF tanpa kondisionalitas dalam pertemuan negara-negara G20 di Washington 15 November 2008 lalu.

Indonesia sendiri akan melakukan pinjaman dari IMF untuk neraca pembayaran (Balance of payment/BOP) APBN 2009 sebagai antisipasi terjadinya krisis ekonomi global.

Menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal Anggito Abimanyu, usulan Presiden RI dalam pertemuan G20 tentang pinjaman IMF tanpa Letter of Intens (LoI). "Usulan ini disetujui tetapi ini untuk emergency funding APBN. Kita belum mengusulkan menggunakan paket ini," katanya di Depkeu, Senin (17/11).

Pinjaman ini untuk mengantisipasi kalau sumber pembiayaan dari penjualan obligasi tidak dapat terserap pasar. Sebab saat ini dana di pasar tersedot ke AS dan Eropa. Pinjaman tersebut disediakan oleh IMF dan Bank Dunia untuk negara-negara yang fundamental ekonominya kuat. Indikatornya adalah cadangan devisa banyak dan ekspornya masih tinggi.

"Usulan ini didukung oleh 10 negara lain seperti Argentina, Brazil, Turki, Mexico dan lain-lain. Jumlahnya belum ditentukan yang penting kalau kita pinjam tidak ada lagi LoI seperti dulu," ujarnya.

Paket ini disediakan dan saat Indonesia membutuhkan, jadi tinggal mengambilnya. Namun tingkat bunga dan jangka waktunya belum ditentukan.[cms]

http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2008/11/17/62513/indonesia-ajukan-pinjaman-ke-imf/

Indonesia kembali Ngutang ke IMF ?

Senin, 17/11/2008 18:45 WIB
RI Boleh Pakai Fasilitas Pendanaan Darurat IMF
Wahyu Daniel - detikFinance



Jakarta - Lembaga keuangan multilateral IMF (International Monetary Fund) kembali menjadi salah satu pilihan Indonesia dalam penyediaan fasilitas likuiditas untuk neraca pembayaran Indonesia pada situasi krisis global yang terjadi saat ini.

Indonesia termasuk negara yang boleh mengakses fasilitas pendanaan darurat baru Short-Term Liquidity Facility (SLF) yang baru saja diluncurkan IMF.

Hal ini dikatakan oleh Kepala Badan Kebijakan Fiskal Depkeu Anggito Abimanyu dalam jumpa pers di kantor Menteri Keuangan, Jalan Wahidin Raya, Jakarta, Senin (17/11/2008).

"Kebutuhan pembiayaan di tengah krisis menjadi salah satu perhatian dalam pertemuan G20 di Brasil, baik pembiayaan untuk neraca pembayaran atau APBN," jelasnya.

Anggito mengatakan salah satu klausul yang diajukan pemerintah Indonesia dan diterima dalam pertemuan tersebut adalah agar ada fasilitas pembiayaan short term liquidity dan dana ini melalui IMF.

"Untuk kali ini untuk short term diberikan tanpa ada kondisionalitas, jadi beda dengan bantuan likuiditas terdahulu," ujarnya.

Memang dalam klausul hasil pertemuan G20 di Brasil dikatakan dalam mengatasi krisis, dimana ekspor pasti akan terganggu yang dikhawatirkan akan mengganggu neraca pembayaran, maka diperlukan adanya bantuan pembiayaan untuk neraca pembayaran.

"Jadi dalam hasil pembicaraan, bantuan likuiditas dari IMF ini bentuknya berbeda, dimana sifat pencairannya cepat dan tanpa kondisionalitas, namun hanya untuk negara-negara dengan track record kebijakan ekonomi yang kuat. Dan Indonesia masuk di dalamnya," paparnya.

Namun Anggito mengatakan Indonesia masih belum membutuhkan bantuan tersebut saat ini. "Cadangan devisa kita masih memadai, kita masih mampu membiayai impor dan utang luar negeri," imbuhnya.

Lalu klausul kedua yang diajukan oleh Indonesia dan disepakati dalam pertemuan itu adalah mengenai pinjaman multilateral untuk pembiayaan APBN.

"Kita tahu 90% pembiayaan APBN dari obligasi negara, tahun depan kalau pemerintah tidak bisa jual bond karena pasar destruktif maka yang menyediakan pembiayaan ini adalah multilateral development banks seperti Bank Dunia," katanya.

Jadi untuk memenuhi pembiayaan APBN Indonesia meminta dukungan dari lembaga multilateral seperti Bank Duniaselama terjadi distorsi terhadap pembiayaan dari pasar. "Tapi pembiayaan ini diperuntukkan bagi negara-negara yang mempunyai track record kebijakan fiskal yang bagus," tambahnya.

Alasan beberapa negara berkembang termasuk Indonesia mengajukan klausul ini adalah karena kondisi situasi saat ini dimana terjadi krisis di AS, banyak dana-dana beralih ke obligasi negara AS.

"AS saat ini banyak menerbitkan T-Bills untuk membiayai defisitnya apalagi ada program bailout pemerintah, jadi ini menyebabkan capital outflow di negara berkembang. Di Indonesia juga terjadi penurunan SUN dan saham, jadi AS yang krisis kita jadi korban, karena itu kita meminta kemudahan ini," tuturnya.

Anggito juga mengatakan untuk mengatasi kebutuhan pembiayaan APBN di 2009, Indonesia telah melakukan penjajakan standby loan yang dikatakan Anggito jumlah yang sudah disepakati lebih dari US$ 5 miliar.

"Jumlah tersebut didapat dari Bank Dunia, Jepang, Inggris, AS, Cina, Perancis dan Timur Tengah," paparnya.
(dnl/qom)
http://www.detikfinance.com/read/2008/11/17/184527/1038535/4/ri-boleh-pakai-fasilitas-pendanaan-darurat-imf